Apakah Ikhlas itu?

Posted: November 17, 2010 in IKHLAS

Ikhlas ditinjau dari sisi bahasa berasal dari kholusho, yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda (terkena campuran). Sedangkan menurut bahasa, ikhlas adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya.

Selanjutnya, setelah mengalami penambahan huruf menjadi akhlasho, maka kata itu berubah menjadi trnsitif yang berarti membersihkan atau memurnikan. Orang yang membersihkan atau memurnikan dikatakan sebagai al-mukhlis. Orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas, namun hakikat dan definisi-definisi mereka adalah sama. Ada yang mengatakan bahwa ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia, yaitu jika engkau melakukan suatu amalan tertentu maka enkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatan itu. Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin. Selain itu, ada pula yang mengatakan ikhlas itu adalah melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah.

Ulama terkenal Abi Qasimy al-Qusyairi mengatakan bahwa ikhlas adalah menjadikan tujuan taat satu-satunya hanyalah kepada Allah swt. Dia ingin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk mendapat pujian. Sedangkan Hasan al-Banna mengatakan makna ikhlas itu adalah seorang saudara muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya, dan jihadnya, dan seluruhnya hanya kepada Allah, untuk mencari ridha Allah dan balasan yang baik dari Allah dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran.

Dari beberapa penjelasan tentang makna ikhlas di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa keseluruhannya mengarah pada makna, yakni penghargaan terhadap ridha Allah semata dan tidak mengiringinya dengan penghargaan terhadap ridha dari selain Allah.

Sumber : Buku Dahsyatnya Ikhlas (Mahmud Ahmad Mustafa)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s