Gak Ada Uang Kembalian

Posted: May 17, 2011 in JEJAK PERJUANGAN

Gak Ada Uang Kembalian

Uang yang ada di kantong hanya tinggal 1 lembar uang dua ribuan dan ada uang lima puluh ribuan. Sedangkan ongkos untuk naek angkot dari situ ke kos, itu tiga ribu rupiah. Jadi, sebelum naek angkot nyari kedai atau kios dulu untuk memecahkan uang lima puluh ribuan yang ada.

Setelah berjalan kira-kira seratus meter ke sebelah kiri dari gerbang keluar, akhirnya saya menemukan sebuah kios kecil yang di jaga oleh seorang ibu berambut pendek dan berkacamata. Dan saat itu di tempat duduk sebelah kiri ibu tersebut duduk juga seorang laki-laki yang agak gemuk badannya duduk sambil meminum segelas minuman.

Langsung saja saya membuka sebuah kotak merah dan mengambil sebotol minuman teh dingin dari dalamnya. Saya langsung mencari pembuka tutup botolnya, tapi si ibu langsung meminta botol yang saya ambil itu dan langsung dibukakan oleh ibu tersebut menggunakan paku yang sudah ditancapkan pada kios gerobaknya. Setelah itu dia langsung mengambil sebuah pipet dan menyerahkannya kembali kepda saya.

Saya langsung mengambil posisi duduk di bangku yang terletak di sebelah kanan ibu tersebut. Sambil menikmati sebotol teh dingin di pinggir jalan sore itu, terlihat sinar matahari sore berwarna kuning keorangean menembus di selah-selah pohon. Suara deruan mesin mobil bercampur dengan suara klekson angkot yang saling menyapa memberikan irama tersendiri di situ, apalagi tempat itu sudah dekat dengan lampu merah, kamu bisa bayangkan sendiri.

Ketika melihat ke arah kios gerobak si ibu tadi, saya melihat ada jajanan juga yang bergantungan di situ. Saya mengambil dua bungkus roti yang bulat yang ditengahnya ada coklatnya, tapi setelah saya buka coklatnya bukan hanya di tengah, tapi meluber juga hingga ke bagian luar.

Sambil menunggui dagangannya ibu berjam tangan kuning ini juga memasang headset di telinganya. Headsetnya itu disambungkan ke hp qwerty berwarana orange. Terkadang saya mendengar ibu itu mengikuti alunan lagu yang didengarnya dari headsetnya. Tak hanya itu, sekali-sekali dia juga menggoyang-goyangkan kakinya juga mengangguk-anggukkan kepalanya.

Seraya ibu tadi menikmati musik dari headsetnya, saya juga terus menikmati teh dingin saya dengan dua bungkus roti yang ada coklatnya itu.

Kira-kira jam 17.25 roti dan tes botol saya habis. Saya tetap duduk di bangku sebelum membayar. Saya lihat si ibu masih asyik dengan headsetnya, bahkan sesekali dia berjoget. Dalam fikirku, ada-ada saja ya manusia.

“Buk, berapa ini?” saya sambil menunjukkan satu botol the kosong dan dua bungkus roti coklat.

“Empat ribu lima ratus” jawabnya.

Langsung saya buka dompet dan mengeluarkan uang limapuluh ribuan. Belum sempat saya tutup dompet si ibu sudah duluan menjawab tidak ada uang kembaliannya.

“ Adek ini saja belum dikembalikan uangnya” seraya dia menunjuk ke arah orang yang duduk di bangku sebelah kirinya.

Akhirnya, saya duduk saja kembali ke bangku tempat saya duduk tadi. Dan membiarkan waktu berlalu, sambil menikmati sore di pinggir jalanan yang ramai dengan kenderaan dan manusia lalu lalang. Sesekali tak apalah saya fikir, karena memang jarang saya menikmati hal seperti ini.

Sampai 17.53 saya masih tetap duduk di situ, namun belum ada juga ada uang kembalian. Sebetulnya, di seberang jalan ada sebuah kios, dan mungkin bisa tukarkan uangnya di sana, tapi saya memang pingin menunggu saja sampai ada uang kembaliannya, sambil menikmati matahari hingga tenggelam di balik pepohonan.

Sekali lagi saya melihat kembali ke kios gerobak si ibu tadi. Ada yang berbeda, ban depan gerobaknya ternyata bukan ban sepeda lagi, dah diganti dengan ban sepeda motor, cuma motornya aja yang belum ada, hehhehhe..

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya datang seorang lelaki bersepeda motor dan singgah di dekat gerobak kios si ibu. Sepertinya mereka memang sudah akrab, dan mereka mengobrol beberapa waktu. Tak berapa lama kemudian orang tadi pergi. Tapi, sebelum orang tersebut pergi, ketika dia mau naik ke sepeda motornya, si ibu memanggil orang tadi.

“Hei…!”

“Bentar, ada uang tukaran lima puluh ribu, aku lupa, ni mau nukar uang orang ini” kata ibu tadi sambil menunjuk ke arah saya.

Orang tadi langsung mengeluarkan buku dari dalam tas nya, di dalam buku tersebut ternyata ada uang. Dia bertanya pada saya,

“uang dua puluh ribuan dua dengan sepuluh ribuan satu, bisa?” tanyanya pada saya

“ya saudah bang, gak apa-pa” Jawabku

Langsung saya menyerah kan uang lima puluh ribuan untuk ditukarkan dengan tiga lembar uang orang tersebut. setelah itu orang tersebut melaju dengan sepeda motornya.

“Buk, yang tadi siapa?” tanyaku pada ibu tersebut

“Ohh…, dia pekerja koperasi” jawabnya sigkat.

Setelah itu saya langsung menyerahkan uang sepuluh ribuan untuk membayar the botol dan dua bungkus roti bercoklat yang saya makan. Dia mengembalikan lima ribu lima ratus, dan yang lima ribu langsung dimasukkan ke kantong baju depan untuk ongkos angkot.

Masih menunggu di bangku itu dan duduk, serta sesekali menoleh ke kanan untuk melihat ankot 67 yang lewat. Pukul 18.10 akhirnya ada angkot 67 yang lewat.

Medan, 16 May 2011

Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s